Sambutan Selamat Datang

Selamat datang di "Garry Ariel Blog". Kritik dan saran dari Anda sangat saya harapkan untuk terus meningkatkan kualitas dari blog ini, terimakasih :) Ruby

Selasa, 05 Februari 2013

Kota Yogyakarta Menyatukan Dua Insan

Indahnya fajar pagi itu, menyambut datangnya sebuah hari yang baru. Gusti, seorang siswa kelas 12 dari salah satu SMA ternama di Jakarta Selatan, beranjak dari tempat tidurnya dan merapikannya. Segeralah ia mandi dan kemudian makan, karena hari itu ia harus pergi ke sekolah layaknya hari-hari biasa. Dengan naik kendaraan umum, ia pergi kesekolahnya yang hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari rumahnya.
           
Hari itu, hari Kamis kedua pada bulan September. Hari yang bagi Gusti saat itu adalah hari yang biasa saja. Namun yang membuatnya berbeda adalah banyaknya ulangan dan tugas yang diberikan. Meski demikian, ia tetap semangat menghadapi hari itu. Maklumlah, ia sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada. Sebuah universitas terbaik di Indonesia saat itu yang terletak di daerah Yogyakarta.
            
Disekolahnya, Gusti terkenal sebagai siswa yang rajin dan pintar. Ia sering mendapatkan peringkat 10 besar dikelasnya. Terkhusus untuk mata pelajaran matematika. Ia sering mengikuti dan menjuarai berbagai kompetisi matematika. Bahkan, karena hobi dan bakatnya itu, ia pun membuat sebuah akun twitter yang bernuansakan matematika. Akun itu dimaksudkan sebagai tempat untuk saling berbagi ilmu matematika. 
            
Akhirnya, bel sekolah pun berbunyi. Menandai usainya pelajaran hari itu. Tugas dan ulangan yang bertumpuk hari itupun berakhir. Gusti pun langsung pulang. Setibanya dirumah, Gusti segera makan dan beristirahat untuk melepaskan penat di pikirannya. Ia tidur dengan sangat nyenyaknya.
            
Dua setengah jam kemudian, tepatnya pukul 7 malam, ia bangun. Ia segera merapikan dan menyiapkan buku-buku yang akan dipakainya belajar esok hari. Selain itu, Gusti juga mengerjakan beberapa tugas untuk satu minggu kedepan, agar tugasnya tidak bertumpuk nantinya.
            
Selesai mengerjakan tugas-tugasnya, Gusti membuka akun twitter-nya yang jarang ia buka karena kesibukkannya saat itu. Malam itulah, malam dimana seorang perempuan yang sebaya dengannya mem-follow akun twitter-nya. Ia bernama Anastasia, seorang perempuan kelas 10 yang tinggal di sebuah daerah dekat Yogyakarta. Anastasia meminta agar Gusti mem-follback akunnya. Gusti pun mem-follback nya.
            
Sejenak, Gusti mengamati akun Anastasia. Dan sepertinya, ia sudah tak asing lagi dengan perempuan tersebut. Ia merasa pernah melihat akun tersebut sebelumnya. Ya, ternyata memang benar. Anastasia adalah follower dari akun twitter Gusti yang satunya, yaitu akun twitter matematikanya.     
            
Gusti bersikap biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial yang Gusti rasakan saat itu. Percakapan pun tidak ada.
           
Dua minggu pun berlalu. Gusti melewati hari-harinya seperti biasa. Sampai akhirnya, sebuah kabar palsu mengenai dirinya beredar disekolahnya. Kabar itu bercerita mengenai dirinya yang berpacaran dengan seseorang. Padahal saat itu, Gusti sedang tidak berpacaran dengan siapapun. Bahkan, ia juga sedang tidak jatuh cinta ke seseorangpun. Ia pun bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang sebenarnya membuat kabar palsu ini.
            
“Lu pada tau nggak siapa yang buat rumor aneh tentang gue?”, tanya Gusti pada teman-temannya untuk mencaritau siapa yang membuat kabar palsu tersebut. Namun bukan jawaban yang ia harapkan yang didapatnya, malah sorakkan yang diterima serta pertanyaan-pertanyaan yang semakin bermuncullan seputar kabar tersebut.
“Cie Gusti! Sejak kapan jadian? Kok nggak bilang-bilang sih?”
“Iya nih! Lu jadian sama siapa dah, kok nggak ngomong-ngomong?”
“Kita tunggu PJ nya yaa…!” 
Gusti pun menjawab, “Serius nih gw tanyanya! Gue nggak jadian sama siapa-siapa! Siapa sih yang buat rumor palsu ini?”

Meski Gusti sudah mengatakan kepada teman-temannya bahwa  kabar itu palsu, teman-temannya tetap tidak percaya. Mereka lebih memercayai kabar palsu tersebut. Gusti merasa semakin tidak nyaman dengan kabar tersebut. Ditambah lagi, kabar itu semakin merebak setiap harinya. Sampai pada suatu malam, ia mengekspresikannya dengan men-tweet apa yang ia rasakan saat itu. Anastasia yang juga sedang on twitter saat itu, membaca tweet Gusti. Ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Gusti. Anastasia pun me-reply tweet Gusti dengan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Percakapan pun terjadi.
            
Gusti yang saat itu tidak mengenal Anastasia lebih dari namanya yang tercantum dan fotonya, menjawab pertanyaan tersebut dengan singkat dan berusaha menutupi apa yang sebenarnya ia alami. Dengan maksud agar percakapan tersebut segera berhenti, karena ia merasa sangat asing dengan perempuan tersebut. Namun demikian, percakapan terus berlanjut, dan Anastasia semakin penasaran. “Siapa sih ni orang? Perhatian banget sama gue. Padahal kenal aja nggak, ketemu juga nggak pernah.”, pikir Gusti dalam hatinya.
            
Namun lama-kelamaan, Gusti pun mulai menikmati setiap percakapannya dengan Anastasia. Gusti semakin terbuka dengan keadaannya. Ia menceritakan semua yang terjadi padanya. Anastasia pun meresponnya dengan sangat baik dan ramah. Ia memerhatikan setiap hal yang diceritakan oleh Gusti. Ia juga memberikan beberapa saran untuk mengatasi masalahnya.
            
Esok harinya, Gusti mencoba beberapa saran yang diberikan oleh Anastasia. Saran-saran tersebut ternyata cukup berhasil. Teman-temannya pun, kini sudah tidak memercayai kabar palsu yang sempat beredar. Mereka juga sudah mulai membantu Gusti untuk mencari tau, siapa yang sebenarnya membuat kabar palsu ini pertama kali. Dalam beberapa hari, mereka pun menemukan siapa pembuatnya, dan kabar palsu itu pun akhirnya benar-benar hilang.
            
Gusti merasa lega dan tenang. Dan meskipun pelakunya ternyata salah seorang teman baiknya sendiri, ia tetap tidak marah kepadanya. Ia hanya meminta agar kejadian ini tidak diulanginya lagi. Meskipun alasannya hanya sebagi gurauan semata saat itu.
            
Gusti pun merasa cukup tertolong dengan saran dari Anastasia. Melalui akun twitter-nya, ia pun mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Anastasia.
            
Semenjak saat itu, hubungan mereka berdua semakin dekat. Mereka terlihat semakin akrab. Mereka mulai bertanya identitas diri mereka, mencari informasi, dan mencoba untuk mengenal lebih dalam antara satu sama lain.
            
Tak lama, merekapun saling bertukar nomor handphone. Intensitas percakapan mereka meningkat. Frekuensi komunikasi mereka bertambah. Setiap harinya, mereka sms-an dengan topik yang berbeda-beda.
            
Perasaan Gusti pun mulai berubah terhadap Anastasia. Ia mulai tertarik dengannya. Benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hatinya. Perhatian yang diberikan olehnya, membuat hati Gusti terpikat. Anastasia pun juga ternyata mengalami hal yang sama. Kedekatannya selama ini dengan Gusti, membuat dirinya merasa tertarik terhadap Gusti.
           
Meski tak pernah bertemu secara langsung, perasaan mereka terus bertumbuh setiap harinya. Walaupun hanya teks singkat dari sms yang saling mereka kirimkan, mereka terlihat semakin mencintai satu sama lain. Tetapi saat itu, baik Gusti maupun Anastasia tidak mengetahui bahwa mereka sama-sama mencintai. Mereka hanya menerka-nerka, bagaimana perasaan meraka yang sebenarnya saat itu antara satu sama lain.
            
Hari-hari terus berlalu, dan sampailah pada hari Minggu ketiga bulan November. Hari itu mungkin menjadi hari yang sangat berkesan bagi Gusti dan Anastasia. Perasaan yang tumbuh diantara mereka, sudah tak sanggup tuk terus dipendam. Dan akhirnya, Gusti pun mengungkapkan perasaannya pada Anastasia melalui sms. Gusti juga bertanya, apakah Anastasia mau melanjutkan hubungannya dengan Gusti ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu berpacaran.
             
Anastasia berpikir sejenak. Apakah ia akan menerima Gusti, atau menolaknya. Meski secara keinginan hatinya, ia ingin menerima Gusti dan menjadi pacarnya, namun disisi lain, ia juga berpikir bagaimana kelanjutannya apabila ia menerimanya. Mungkinkah hubungan ini akan terus bertahan. Ataukah akan terputus ditengah jalan.
            
Mereka juga menyadari, keadaan sepertinya memang tidak mendukung. Mereka belum pernah bertemu, meski hanya sekejap. Diantara mereka pun, terbentang jarak ratusan kilometer.
            
Sempat terdiam sejenak, akhirnya handphone milik Gusti pun bergetar. Sebuah pesan singkat masuk ke handphone-nya. Pesan itu dari Anastasia.
            
“Jujur aku sayang sama kamu. Aku juga mau jadi pacar kamu. Tapi maaf, kalau kita berpacaran sejak saat ini, rasanya terlalu terburu-buru. Keadaan kita juga sepertinya tidak mendukung. Tapi aku yakin, kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, suatu saat nanti, kita kan dipertemukan secara nyata. Dan sampai waktunya nanti, kalau ada seseorang yang memang lebih bisa membahagiakan kamu, menyayangi kamu, dan selalu ada disampingmu, tolong kamu buka hati kamu untuk dia. Aku nggak mau jadi beban untuk kamu. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku harap, kita tetap bisa menjadi kita seperti saat ini.”
            
Kecewa, namun mungkin itulah yang terbaik. Gusti mencoba memahaminya perlahan. Dan meski demikian, perasaannya terhadap Anastasia tidaklah berubah. Ia yakin, bahwa Anastasia lah pilihan hatinya. Keinginan dalam hatinya sudah bulat, ia akan tetap menjaga perasaannya sampai pada waktunya, walaupun juga ada keraguan, apakah benar akan ada waktunya.

Disisi lain, Anastasia pun juga melakukan hal yang sama. Ia bertekad untuk menjaga perasaannya pada Gusti ditengah ketidakpastian waktu. Ia juga yakin, bahwa Gusti lah pilihan hatinya. Sejak saat itu, komunikasi mereka masih terus berlanjut, hanya saja frekuensinya yang sedikit berkurang.
            
Hari-hari yang Gusti lalui menjadi terasa lebih sepi. Ia menggantungkan harapannya pada sebuah pengharapan semu yang bisa saja terjadi atau mungkin juga tidak. Semangat yang biasanya terlihat di raut wajahnya, kini mulai meredup. Teman-temannya pun menjadi bingung dengan apa yang terjadi pada Gusti. Mereka belum pernah melihat keadaan Gusti yang sekarang ini. Gusti lebih sering menyendiri dikelas. Padahal biasanya, ia selalu berkumpul dengan teman-temannya, khususnya saat jam istirahat.
            “ Kenapa lu Gus? Akhir-akhir ini kok lu kayaknya nggak semangat gitu?” sapa seorang temannya menghampiri tempat duduk Gusti.
            “Iya nih, ada apa sih Gus? Cerita-cerita dong!” tambah satu temannya yang lain.
            “Nggak kok. Nggak kenapa-napa.”
            “Nggak usah ditutupin Gus. Kita tau kok kalau lu lagi ada masalah. Cerita aja. Siapa tau kita bisa bantu.”
            Gusti pun lalu menceritakan apa yang terjadi saat itu. Ia menceritakan semuanya dari  awal sampai akhir. Kedua temannya pun mendengarkan dan mencoba memberikan semangat padanya.
            “Gapapa Gus. Menurut gue, keputusan yang dia ambil itu bijak kok. Dan jangan terlalu cepet putus harapan. Kalau lu yakin, kejar terus. Bener kata dia, kalau emang lu ditakdirin untuk bersama, pasti Tuhan akan mempertemukan lu dengan dia suatu saat nanti.”
            “Tetep semangat ya Gus! Emang susah sih, tapi gue juga merasa, ini yang terbaik buat lu berdua.”
            
Kedua temannya pun  kemudian beranjak. Gusti pun mencoba untuk mengumpulkan kembali semangat pada dirinya. Dan pada saat itu, terpikirlah di benaknya akan suatu hal, yaitu universitas tujuannya. Ya, UGM, lokasinya di Yogyakarta dan tak jauh dari tempat tinggal Anastasia.
            
Harapan pun mulai kembali terbangun. Masih ada sebuah peluang besar yang menanti. Masih ada kesempatan untuk bertemu Anastasia, dan mewujudkan apa yang menjadi impian di hatinya saat itu.
            
Semangat yang sempat pudar, kini mulai kembali bercahaya dalam dirinya. Ia berusaha untuk memaksimalkan kesempatan yang masih ada. Sejak saat itu, asanya dalam belajar yang sempat berkurang, kini kembali meningkat, bahkan lebih dari sebelum-sebelumnya. Ia menambah lagi waktu belajarnya, demi untuk bisa masuk ke Universitas pilihannya. Hal yang tadinya menjatuhkan semangatnya, kini menjadi motivasi tersendiri baginya.

            “Ciee udah balik lagi nih kayaknya semangatnya!” sapa seorang temannya melihat perubahan yang terjadi pada Gusti.
            “Iya. Gue udah ketemu solusi akan masalah gue. Makasih ya udah kasi gue semangat waktu itu!”
            “Iya, sama-sama. Syukur deh kalau kayak gitu.”
            Hari-haripun berlalu dengan semangat yang membara dalam diri Gusti. Dan semester 5 pun berakhir. Masuklah pada semester keenam, waktu-waktu yang sangat menentukan langkah pendidikan Gusti selanjutnya. Dan tentunya, menentukan apakah impian di hatinya akan terwujud atau tidak. Waktu-waktu itupun ia lewati dengan motivasi dan keyakinan, bahwa ia pasti bisa. Ujian-ujian yang harus dialui, ia tempuh dengan pengharapan yang tinggi. Setiap usahanya, tak lupa ia barengi dengan doa.
            
Akhirnya, tibalah pada hari pengumuman mengenai hasil seleksi masuk universitas, sehari setelah hari pengumuman kelulusan, dimana Gusti dinyatakan lulus dengan hasil terbaik. Pengumuman tersebut dicetak pada lembaran-lembaran kertas yang ditempelkan pada sebuah papan. Segera Gusti melihat kertas-kertas tersebut, dan mengamatinya satu per satu. Semua usaha dan doanya selama ini, kini akan nyata pada lembaran kertas tersebut.
            
Betapa kagetnya Gusti, ketika ia melihat namanya tercantum pada salah satu kertas yang tertempel tersebut. Betapa gembiranya ia, ketika tinta hitam yang tertera, menuliskan namanya serta nama universitas yang selama ini ia inginkan. Seketika itu, tergambarlah di pikirannya, sebuah universitas yang megah, yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu beberapa tahun kedepan. Terlukis pula, suasana alam nan indah di kota Yogyakarta, yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa waktu lamanya.
            
Saat itu juga, ia pun meluangkan waktunya untuk menelpon Anastasia. Ia berniat untuk memberitaukan kabar sukacita itu padanya. Dan setelah Anastasia mendengar kabar itu, turut bergembiralah dirinya. Harapan dan doanya selama ini tidaklah sia-sia. Ia pun semakin yakin, bahwa Gusti lah benar-benar pilihan hatinya.
            
Waktu terus berputar, sampai akhirnya tibalah bulan Juli akhir, dua minggu sebelum OSPEK. Gusti pun berangkat pada hari Senin minggu itu sekitar pukul 6 sore menuju Yogyakarta dengan menggunakan pesawat. Ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan sang pujaan hatinya secara nyata.

Sepanjang perjalanan, ia pun berpikir dan merencanakan waktu dan tempat yang pas untuk bertemu. Meskipun ia belum pernah secara langsung ke Yogyakarta, namun ia sudah cukup banyak mengetahui informasi-informasi tempat yang indah di Yogyakarta.

Setelah kurang lebih satu setengah jam di perjalanan, tibalah Gusti di Bandara Adi Sutjipto. Tante Dina, seorang adik dari ibunya Gusti, sudah bersiap di bandara untuk menjemput Gusti kerumahnya. Selama menimba ilmu di UGM, Gusti akan tinggal bersama tante Dina.

Segeralah mereka masuk kedalam mobil milik tante Dina, dan bergerak menuju kediamannya. Selama perjalanan, terlihat suasana alam yang begitu eloknya. Bangunan-bangunan yang tertata di sepanjang jalan, sangat memikat hati. Sejuknya udara malam itu, menambah pesona tersendiri bagi kota yang mendapat sebutan ‘kota pelajar’ itu. Gusti pun tak melewatkan kesempatan itu untuk mengamati pemandangan sekitarnya.

“Keren juga ya pemandangan di kota Jogja. Gak nyesel pilih ngelanjutin studi disini.” Sapa Gusti memecah keheningan di mobil.
“Iya, tante berani jamin, kamu bakalan betah deh disini.” Balas Tante Dina sambil tersenyum kearah Gusti.
“Oiya Tan, tempat-tempat yang bagus buat jalan-jalan di Jogja, kira-kira dimana aja ya?”
“Emm, banyak sih. Umumnya Malioboro, Pantai Parangtritis, Borobudur, ya pokoknya banyak deh. Tapi kalau tempat yang jadi favorit tante sih Alun-Alun Kidul. Tempatnya paling pas deh kalau buat sekedar jalan-jalan atau nggak ngumpul bareng temen.”
“Wah, jadi pingin coba ngunjungin satu-satu nih.” balas Gusti sambil tertawa kecil.
“Besok agak maleman, tante ajak kamu jalan-jalan ke tempat favorit tante deh.”
“Serius nih tante? Makasih ya.”

Gusti menjadi tak sabar menunggu hari esok. Ia ingin segera melihat dengan matanya sendiri, bagaimana keindahan tempat favorit tantenya tersebut. Dan mungkin saja, tempat itu juga bisa menjadi tempat peretmuan yang pas untuknya dan Anastasia.

Esok sorenya sekitar pukul 05.30, mereka pun bersiap-siap untuk berangkat menuju Alun-Alun Kidul. Tempatnya tidaklah terlalu jauh dari rumah tante Dina. Hanya sekitar 30 menit waktu yang diperlukan untuk sampai disana.

Dan setibanya disana, apa yang Gusti dengar dari tante Dina terbukti benar. Tempat itu sangatlah pas untuk berjalan-jalan ataupun hanya untuk kumpul. Ditemani oleh dua batang pohon beringin yang besar, dan penampakkan alam sekitarnya yang memukau, Gusti pun memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat pertemuan pertamanya dengan Anastasia.

Malam itu juga, ia pun menelpon Anastasia untuk memberitaukan rencana pertemuan mereka. Pertemuan itu direncanakan oleh Gusti pada Sabtu itu juga pukul 06.30 malam. Anastasia pun setuju dengan waktu dan tempat yang dipilihnya.

Debaran jantung keduanya mulai meningkat. Senang dan haru bercampur menjadi satu. Hari yang telah lama mereka nanti-nantikan ternyata datang, dan sudah didepan mata. Mereka pun mempersiapkan diri mereka untuk pertemuan nyata yang pertama itu.

Malam itupun berlalu. Rabu, Kamis, dan Jumat pun terasa sangat cepat berjalan. Hingga tibalah hari Sabtu. Sabtu yang mungkin akan menjadi Sabtu yang paling berkesan bagi Gusti maupun Anastasia.

Sekitar pukul 05.30 sore itu, Gusti sudah bersiap-siap untuk berangkat. Ia bermaksud untuk tiba lebih dahulu.
“Gus, mau kemana kamu, udah rapi begitu?” tanya tante Dina.
“Mau pergi jalan-jalan ke Alun-Alun Kidul sebentar Tan.”
“Oh, mau tante anterin nggak?”
“Nggak usah tan. Aku berangkat sendiri aja.”
“Yaudah, hati-hati ya! Jangan pulang terlalu malem.”
“Siap Tan!”
            
Gusti pun berangkat menuju Alun-Alun Kidul. Ia mulai merasa gugup. Namun rasanya tak sebanding dengan kegembiraan yang saat itu mewarnai hatinya.
            
Tiga puluh lima menit pun berlalu. Gusti pun tiba di Alun-Alun Kidul. Didekat salah satu pohon beringin yang besar, ia menunggu Anastasia.
            
Tak lama, terlihatlah seorang perempuan datang berjalan mendekati tempat Gusti menunggu. Setiap langkahnya, semakin terlihat raut muka perempuan tersebut. Gusti mencoba mengenalinya. Sampai akhirnya, perempuan itu tiba dan menyapanya.
            “Kamu Gusti kan?”
            “Iya, aku Gusti. Kamu, Anastasia kan?”
            “Iya, ini aku! Aku nggak nyangka akhirnya bisa ketemu kamu.”
            “Udah lama aku nunggu hari ini, dan akhirnya datang juga. Apa yang kamu bilang waktu itu ternyata bener. Kalau kita ditakdirin untuk bersama, kita akan dipertemukan suatu saat nanti. Dan saat itu adalah hari ini.”
            “Iya, hari yang udah lama banget aku tunggu. Sempat ku berpikir kalau hari ini tak akan pernah datang, tapi ternyata ada dan datang.”
            “Aku rasa inilah waktunya. Semenjak November tahun lalu, aku masih tetap menjaga perasaan ini ke kamu. Aku sayang kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”
            “Iya, aku mau. Aku juga masih menjaga perasaan ku ke kamu. Dan aku rasa, keadaan saat ini sudah berbeda dari waktu itu. Tak ada lagi yang menghalangi kita, bahkan jarak sekalipun tidaklah. Terima kasih ya, kamu udah setia jaga perasaanmu untukku.”
            
Seketika itu juga, meluaplah kegembiraan mereka. Keharuan juga turut menyelimuti mereka malam itu. Terangnya sinar bintang dan rembulan pun turut menambah kesan yang tak terlupakan. Alun-Alun itu menjadi saksi bisu, bertahannya sebuah cinta yang langka, cinta yang dimulai dari dunia maya. Kota Yogyakarta pun menjadi bukti, berawalnya kisah cinta mereka.



Oleh:
Garry Ariel Cussoy


“Jika kita ditakdirkan lahir untuk hidup bersama, percayalah bahwa tak akan ada satu hal pun yang dapat menghalangi kita untuk bersama.” -Garry Ariel Cussoy-

Sabtu, 12 Januari 2013

Berjalan Dalam Kenangan


Waktu terus berputar
Memaksaku tuk terus berjalan
Melupakan semua
Semua kenangan manis nan indah
Antara aku dan kamu

                                    Jantung ini masih terus berdetak
                                    Siang malam masih terus berganti
                                    Semangat darimu
Yang selalu menemani hariku
Kini terasa beda
                                    Dikala dirimu
                                    Menyuruhku tuk lupakanmu
                                    Disaat dirimu
                                    Pergi tinggalkanku

Meski ku tau
Tidaklah pernah diriku memilikimu
Hanya suatu hubungan
Hubungan tanpa status
Yang pernah terjalin erat diantara kita
Tetap kurasa kehilangan
                                   
Namun
                                    Ku kan tetap bertahan
                                    Menjaga cinta ini
                                    Utuh hanya untukmu
                                    Meski sakit kan menyelimutiku
                                    Ku kan tetap bertahan
                                    Tuk terus berjalan dalam kenangan


OLEH:
GARRY ARIEL
12 JANUARI 2013
                                    

Rabu, 26 Desember 2012

Matematika : Talenta yang Menyelamatkan


Siang itu, teriknya mentari sangat menyengat kulit. Dengan perlengkapan seadanya, Andre, seorang pemuda berumur 17 tahun, pergi ke hutan yang berada kurang lebih 8 km dari rumahnya untuk mencari kayu hutan. Kayu-kayu ini nantinya akan dijual kepada tukang-tukang pengrajin kayu. Sudah setiap hari, ia melakukan pekerjaan ini untuk mencari nafkah bagi keluarganya, meskipun pendapatannya tidak sebanding dengan perjuangannya.  Maklum, karena ia adalah anak tunggal di keluarganya dan ayahnya telah meninggal sejak usianya masih kanak-kanak. Ibunya pun saat ini menderita radang usus buntu semenjak  setahun terakhir, sehingga Andre harus berjuang untuk mencari biaya pengobatan ibunya. Andre pun menjadi tulang punggung bagi keluarganya.  Karena keadaannya saat ini, Andre juga harus rela meninggalkan bangku sekolahnya saat ia beranjak naik ke kelas 12.
            Disekolahnya dulu, Andre terkenal sebagai murid yang pintar, khususnya pada bidang pelajaran matematika. Ia sering meraih peringkat 3 besar di kelasnya. Selain itu, ia juga sering mengikuti kegiatan dan lomba matematika antarsekolah. Tak heran, banyak piala, sertifikat, dan sebagainya tersimpan dirumahnya.
            Meski demikian, seolah-olah sekolah tak melihat segudang prestasinya itu. Karena kondisi keuangan, Andre pun mau tak mau harus tetap meninggalkan bangku sekolah. Namun Andre masih tetap dapat bersyukur, karena meski ia tak sekolah, ia masih memiliki teman-teman yang setia menolong dia dalam berbagai masalah. Baik suka maupun duka.
            Hari pun semakin sore. Matahari sudah mulai tenggelam perlahan. Dengan sisa tenaganya hari itu, Andre bergegas pergi ke tempat penjualan kayu dan kemudian pulang kerumahnya yang berada di sebuah desa kecil. Desa itu hanya terdiri dari beberapa keluarga yang sangat sedikit jumlahnya. Masing-masing keluarga itu tinggal di rumah-rumah yang minimalis, bahkan bisa dibilang tak layak dihuni. Setiap rumah di desa itu berjarak cukup jauh antara satu dengan yang lainnya.
            Sesampainya dirumah, Andre segera mandi dan menyiapkan makanan untuk ia dan ibunya, yang saat itu sedang beristirahat dikamar. Dengan bahan makanan dan peralatan seadanya, Andre mulai memasak. Selesai memasak, Andre pun membangunkan ibunya untuk makan.
            “Oh nak, kamu sudah pulang?” Tanya ibunya Andre.
            “Iya bu. Saya juga sudah buatkan makanan. Ayo kita makan dulu, agar ibu bisa minum obat dan kembali beristirahat.”
            “Baiklah, terima kasih ya nak.”
            Mereka segera menikmati makanan yang sudah tersedia. Hari yang sudah semakin malam, mebuat suasana saat itu menjadi hening. Suara jangkrik mulai terdengar semakin keras, yang mebuat kesan tersendiri malam itu. Segera setelah mereka makan, mereka beristirahat. Hari itupun berlalu.
            Fajar pagi menyingsing. Menandai aktivitas di hari yang baru segera dimulai. Andre menyiapkan makan untuk sarapan, seperti pada hari-hari yang lain. Ketika Andre dan ibunya makan pagi itu, 2 sahabat Andre, Bima dan Coki datang menghampiri rumahnya dengan membawa selembar kertas koran. Andre segera membukakan pintu.
            “Oh hai. Ada apa pagi-pagi begini sudah mampir kerumah ku?” Tanya Andre.
            “Ini Ndre, ada kabar bagus. Coba lihat!” Jawab Bima, sambil menunjukkan koran yang ia pegang.
            “Apa ini?” Tanya Andre penasaran, sambil membaca koran yang diberikan kepadanya. “Oh, ada lomba matematika ya?”
            “Iya, kamu kan suka banget sama pelajaran matematika. Udah gitu jago lagi. Dan kebetulan kami menemukan koran ini. Pas kami liat, ternyata ada berita tentang lomba matematika yang terbuka untuk siapa saja se-Jawa Barat dengan batas umur dari 15-18 tahun. Jadi ya kami kasitau aja ke kamu.” Jawab Coki.
            “Hadiahnya pun lumayan banget kan kalau kamu bisa menang. Bisa bantu kamu untuk tolong ibu kamu berobat. Hanya sekali kompetisi dan hadiahnya langsung didapat hari itu juga. Waktunya masih sebulan lagi, jadi masih banyak waktu untuk siapin.  Aku yakin, kamu pasti bisa.” Sahut Bima.
            “Wah, makasih ya untuk info dan semangatnya. Aku akan coba deh. Sekali lagi makasih ya!” Balas Andre dengan hati yang sangat senang.
            “Iya, sama-sama Ndre. Berjuang ya! Goodluck! Kami akan selalu berdoa buat kamu.” Sahut Bima menyemangati Andre.
            Kedua sahabatnya kemudian pulang. Andre segera masuk kerumah dan memberitaukan kepada ibunya. Ibunya Andre juga merasa sangat senang, dan mendukung putra tunggalnya itu untuk mengikuti kompetisi itu.
            Semenjak hari itu, Andre mulai mempersiapkan segala materi yang akan dilombakan nantinya. Ia belajar dengan tekun menggunakan buku olimpiade nya yang sudah berdebu, karena sudah lama tak ia buka. Dengan penuh semangat, setiap harinya ia belajar hingga larut malam. Tak lupa, segala usahanya dibarengi dengan doa.  Ditengah kesibukannya menyiapkan lomba itu, ia juga tak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga.
            Hari-haripun berlalu. Waktu terasa berjalan begitu cepat bagi Andre, karena ia melewati hari-harinya dengan penuh semangat. Ia berpikir, mungkin inilah jalan keluar yang Tuhan berikan akan masalahnya. Sehingga ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan berharga itu.
            Dan sampailah pada hari perlombaan itu. Pagi itu, Andre bangun sedikit lebih awal dari biasanya karena waktu perlombaan cukup pagi, dan tempatnya sangat jauh. Andre segera mandi, dan menyiapkan makanan. Karena sudah terbiasa makan bersama, Andre pun berniat membangunkan ibunya untuk makan bersama.
            Namun suatu hal yang mengejutkan terjadi. Pagi itu, ibunya tak sadarkan diri. Keadaanya sudah sangat lemah, dan harus segera mendapat pertolongan medis. Seketika itu juga, segala yang ada di pikirannya buyar. Perlombaan matematika yang sudah lama ia tunggu-tunggu, seketika itu juga lenyap dari pikirannya. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Air matanya pun tak kuat lagi ia tahan untuk terjatuh. Dan akhirnya, iapun segera pergi menuju rumah seorang dokter di desa itu, yaitu Bu Desi.
            Saat Andre membuka pintu rumahnya untuk pergi, ia terkejut melihat kedua sahabatnya berada di depan rumah. Bima dan Coki berniat untuk memberi semangat kepada Andre. Namun karena melihat raut muka Andre, dan juga tangisannya, mereka menjadi bingung.
            “Hai Andre. Ada apa? Kenapa kamu menangis?” Tanya Bima pada Andre.
            “Ibuku Bim.” Jawabnya sambil menangis.
            “Kenapa dengan ibumu?” Tanya Bima lagi.
            “Iya, ada apa Ndre?” Tambah Coki.
            “Ibuku, ibuku tak sadarkan diri. Keadaanya juga sangat lemah dan demamnya sangat tinggi. Sekarang, aku mau pergi memanggil Bu Desi. ” Jawab Andre.
            “Oke baiklah, biarkan kami berdua yang pergi memanggil Bu Desi. Kamu tunggu saja dulu disini. Kami akan segera kembali.” Respon Coki.
            “Baiklah. Terimakasih sahabat-sahabatku!”
            Bima dan Coki segera pergi menuju rumah Bu Desi. Rumahnya tak terlalu jauh dari rumah Andre. Sementara itu, Andre kembali masuk kerumahnya, dan menjaga ibunya yang terbaring lemah. Cucuran air mata Andre terlihat semakin deras. Semakin terlihat kebingungan pada raut wajahnya. Ia hanya bisa berpasrah dan berdoa, berharap ibunya akan tetap baik-baik saja.
            Setelah kurang lebih 10 menit, Bu Desi pun sampai di rumah Andre bersama dengan Bima dan Coki. Dengan sigap, Bu Desi memeriksa keadaan ibu Andre.
            “Bagaimana bu keadaan ibu saya?” Tanya Andre yang mencoba untuk tegar.
            Dengan muka yang cemas Bu Desi menjawab, “Maaf ya Ndre. Tapi sepertinya, ibu kamu harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk segera melakukan operasi usus buntunya. Karena kondisinya sudah semakin parah. Kalau dibiarkan, usus buntunya dapat pecah. Namun sayangnya, peralatan di desa ini tidaklah memadai.”
            Tanpa pikir panjang saat itu, Andre mengambil keputusan untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Bu Desi dan kedua sahabat Andre pun dengan segera menolong Andre untuk membawa ibunya ke rumah sakit terdekat. Meskipun rumah sakit terdekat itu berjarak kurang lebih 15 km.
            Dengan meminjam sebuah mobil milik kepala desa, satu-satunya mobil yang ada di desa itu, mereka segera berangkat menuju rumah sakit. Kepala desapun ikut beserta mereka. Pikiran Andre saat itu tak karuan. Ia khawatir akan biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan ibunya. Namun kedua sahabatnya berusaha menenangkannya.
            Dan akhirnya, sampailah mereka di rumah sakit. Bu Desi dan yang lain segera turun dari mobil dan memanggil suster yang bertugas untuk segera membawa ibunya Andre masuk kedalam rumah sakit dan segera mendapatkan pertolongan. Namun Andre hanya duduk menemani ibunya di mobil.
            Tak lama setelah suster itu datang, dibawalah ibunya Andre ke ruang UGD. Andre dan yang lainnya pun mengikuti suster tersebut, namun hanya sampai didepan ruang UGD. Karena hanya pasien dan tim medisnya saja yang boleh masuk. 
            Andre hanya duduk diam saja saat itu tanpa sepatah katapun, sambil menunggu perkembangan kondisi selanjutnya. Tak lama, seorang dokter yang menangani ibunya Andre keluar dari ruang UGD.
            “Bagaimana dok ibu saya?” Tanya Andre
            “Maaf. Ibu anda harus segera dioperasi. Karena kondisinya sudah semakin memburuk. Dan biaya untuk melakukan operasi ini sebesar 10 juta rupiah.”
            Seketika itu, air mata Andre mengalir semakin deras tak terbendung. Teman-temannya hanya diam dan mendekatinya sambil mengelus pundaknya. Percakapan pun terhenti.
            “Maaf dok, tapi saat ini kami hanya ada uang sebesar 3 juta rupiah. Bisakah operasi ini dilaksanakan segera? Kami berjanji akan segera melunasinya.” Tanya Bu Desi pada dokter untuk mengambil alih percakapan yang saat itu sempat terputus.
            “Maaf bu, tapi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di rumah sakit ini, seminimalnya sudah harus ada 80% dari keseluruhan biaya.”
            “Apakah tidak ada keringanan dok?”
            “Maaf bu, tapi saya hanya menjalankan ketentuan yang ada.”
            Mereka semua bingung mencari solusinya. Bagaimanakah cara mencari 5 juta rupiah dalam waktu yang singkat? Disaat mereka mengira harapan sudah tak ada, muncullah sebuah titik terang.
            “Andre! Aku tau. Masih ada harapan. Lomba matematika itu.” Sahut Bima, memecah keheningan saat itu.
            “Iya benar, lomba itu! Kita bisa mendapatkan uang 5 juta rupiah!” Tambah Coki.
            Lomba matematika yang sempat terlupakan oleh Andre, kini kembali muncul dipikirannya. Dan dengan lomba itu, harapan kembali muncul. Semangat pada diri Andre bertahap mulai kembali. Ia melihat, sebuah peluang besar masih ada.
            Ditengah kondisinya, Andre memutuskan untuk mencoba mengikuti kompetisi itu. Ia melihat jam yang tergantung ditembok rumah sakit, dan ternyata waktunya masih bisa untuk mengikuti lomba itu.
            “Ya kalian benar. Masih ada harapan! Kalau begitu, akan aku coba.”  
            Mendengar hal itu, kepala desa segera berinisiatif untuk mengantar Andre menuju tempat perlombaan yang berada di sebuah universitas ternama di kota tersebut. Sementara Bima, Coki, dan Bu Desi menunggu di rumah sakit.
            Segeralah Andre dan kepala desa berangkat. Dengan kecepatan penuh, sang kepala desa mengemudikan mobilnya. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit.
            Setibanya disana Andre segera berlari dan mendaftarkan dirinya. Dengan uang 50 ribu dikantongnya, hasil tabungannya selama sebulan, ia menggunakannya sebagai uang pendaftaran. Sementara itu, kepala desa menunggu Andre di mobilnya.
             5 menit berselang, terdengar pengumuman yang mengaharuskan setiap peserta lomba memasuki ruangan masing-masing untuk mendapatkan pengarahan. Andre pun bergerak menuju ruangannya, yaitu ruang 15. Ruangan ini khusus untuk peserta yang baru medaftar secara langsung ditempat tersebut.
            Pengawas ruangan pun datang, kemudian membagikan lembar pengisian jawaban kepada peserta. Setelah itu, pengawas membacakan aturan-aturan dari perlombaan tersebut. Selagi aturan dibaca, peserta mengisi biodata diri pada lembar jawaban yang telah dibagikan.
            Selesai dibacakan, pengawas membagikan 5 lembar kertas soal yang berisikan 50 butir soal pilihan ganda. Tak lama, bel tanda perlombaan dimulai berbunyi. Sebelum Andre mengerjakan, ia pun berdoa sejenak. Segera setelah berdoa, Andre membuka kertas soal, dan mulai mengerjakan. Waktu yang tesedia 150 menit.
            Perlahan, semangatnya kembali meningkat. Konsentrasinya kembali terkumpul. “Tunggu aku bu! Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk membayar biaya pengobatan ibu. Sehingga ibu bisa segera dioperasi dan kembali sembuh!” Pikirnya dalam hatinya. Inilah salah satu yang memotivasinya saat itu untuk terus berjuang dan mendapatkan peringkat satu pada perlombaan tersebut.
            Waktu terus berjalan. Soal demi soal pun mulai terjawab. Pikirannya pun semakin jernih dari waktu ke waktu.
 Tanpa terasa, waktu sudah hampir habis. Lembar jawaban Andre terlihat sudah hampir penuh. Empat puluh tujuh soal sudah ia jawab. 
Dan akhirnya, bel kembali berbunyi. Kali ini menandakan berakhirnya perlombaan. Pengawas beranjak dari tempat duduknya, dan mengambil semua lembar jawaban yang ada pada meja peserta. Ada yang menjawab 20 soal, 30 soal, 40 soal, namun terlihat, bahwa Andre lah yang menjawab soal terbanyak. Meski demikian, nilai ditentukan bukan berdasarkan banyaknya soal yang dijawab. Sistem penilaian berdasarkan pada poin terbesar dengan ketentuan menjawab benar mendapat poin 4, salah -1, dan dikosongkan 0.
Panitia perlombaan pun segera memberitaukan kepada seluruh peserta untuk menunggu selama 1 jam, sampai hasil pekerjaan peserta selesai diperiksa. Saat itulah, saat yang paling mendebarkan dalam hidup Andre. Ia merasa sangat tegang, takut, dan cemas akan hasilnya. Karena hasil inilah yang akan menentukan apakah proses pengobatan ibunya berjalan atau tidak.
Di tempat lain, Bima, Coki, dan Bu Desi pun merasa sangat khawatir. Kepala desa yang menunggu di mobil juga merasa demikian. Mereka terus berdoa, agar Andre dapat memberikan hasil yang terbaik. Dan mereka yakin bahwa Andre mampu, Andre pasti bisa.
Masa penantian pun berlalu. Setiap peserta diharuskan memasukki aula universitas tersebut untuk mendengarkan hasil kompetisi. Disana berkumpul 321 peserta. Hati Andre berdebar-debar. Ia benar-benar memerhatikan setiap kalimat yang diucapkan oleh panitia. Sambil berdoa dalam hati dan berharap, namanya akan disebutkan.
Dan hasil pun mulai dibacakan. Dimulai dari peringkat ketiga, kedua, dan baru peringkat pertama.
“Ya, dan berikut ini, nama-nama peserta yang meraih peringkat tiga besar pada kompetisi matematika se-Jawa Barat tahun 2012.” Ucap panitia.
Peringkat ketiga pun dibacakan. Dan nama Andre tak disebut. Kemudian peringkat kedua dibacakan, dan lagi, namanya tak disebut. Dan sampailah pada pengumuman peringkat pertama. Saat-saat yang benar-benar menentukan.
“Dan, yang meraih peringkat pertama dengan nilai 153 adalah … “ Kata panitia dengan penuh semangat yang kemudian memberikan jeda sekitar 30 detik sebelum dilanjutkan. “Selamat kepada Andre Widiasmoro! Kepada Andre, dipersilahkan untuk maju kedepan!”
Senang, bangga, semua perasaan Andre bercampur jadi satu saat itu. Tak ia sangka, namanya akhirnya disebutkan. Harapan dan doanya terjawab seketika itu. Ia benar-benar sangat bersyukur. Dan dengan langkah yang tegap, ia segera maju mendekati panitia yang baru saja mengumumkan hasilnya.
Dari hasil ini, Andre mendapatkan sebuah sertifikat, piala, dan uang tunai senilai 5 juta rupiah. Uang yang sangat ia butuhkan, akhirnya dapat ia genggam.
Setelah selesai, Andre segera berlari menuju mobil kepala desa. Ketika masuk ke mobil sambil membawa piala, kepala desa langsung mengerti bahwa Andre telah berhasil. Ia pun turut bergembira atas kemenangan itu.
Tanpa menunggu, kepala desa mulai mengemudikan mobilnya sampai kecepatan maksimal menuju rumah sakit. “Aku datang bu! Aku membawa uang untuk biaya operasi ibu! Ibu bertahan ya, aku akan segera sampai. Aku sayang ibu!” Pikirnya dalam hati, sementara matanya berlinangan air mata.
Sesampainya disana, Bima dan Coki segera menghampiri Andre. Mereka bertanya akan hasil dari kompetisi tersebut. Dan setelah mereka mengetahui hasilnya, mereka menepuk pundak Andre, dan menyalaminya.
Tanpa berlama-lama, Andre dan yang lain menuju ruang administrasi. Mereka membayarkan sejumlah uang yang diperlukan untuk melakukan operasi.
Operasi pun akhirnya dimulai. Andre memasrahkan semuanya pada Tuhan. Dan tetap berharap, ibunya akan baik-baik saja.
Operasi berlangsung kurang lebih 3 jam.  Sampai akhirnya, seorang dokter yang mengoperasi keluar dari ruang operasi, dan memberitakan sebuah kabar sukacita.
“Andre Widiasmoro?” Tanya sang dokter dengan muka yang terarah pada Andre.
“Iya benar. Bagaimana dok kondisi ibu saya?”
“Kamu patut bersyukur. Karena waktu operasi berlangsung tepat waktu. Sehingga saat ini, ibu kamu dalam keadaan yang sudah stabil. Karena, jika waktu operasi tadi terlambat hitungan menit saja, mungkin ibu kamu tidak tertolong.”
Betapa senang hatinya, ketika mendengar bahwa ibunya sudah baik-baik saja. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Telah terjadi hal yang luar biasa hari itu dalam hidup Andre.
“Besok, ibu kamu sudah diperbolehkan untuk kembali kerumah. Sekarang ibu kamu masih belum sadarkan diri. Namun jangan khawatir, ibu kamu akan segera sadarkan diri. Sekarang, kamu diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan ibu kamu.” Kata sang dokter.
Andre segera masuk, sementara yang lain tetap diluar. Ia melihat kondisi ibunya, yang saat itu sedang terbaring lemah di kasur. Andre pun menunggu didekat ibunya. “Ibu baik-baik saja kan? Saat ini aku ada disini. Ada didekat ibu untuk menjaga ibu.” Katanya dalam hati.
Hari semakin sore, dan Andre memutuskan untuk menunggu ibunya dirumah sakit. Sedangkan kepala desa, Bu Desi, dan kedua teman Andre pulang kerumah.
Sekitar pukul 8 malam, ibunya Andre mulai membuka matanya. Sedikit demi sedikit, ia mulai sadarkan diri. “Andre? Andre? Dimana kamu?” Itulah pertanyaan pertama yang dikatakan oleh ibunya Andre. Andre yang saat itu sedang tertidur didekatnya terbangun. Andre pun segera menjawab, “Ibu! Andre disini! Syukurlah ibu sudah sadar!”
Kebahagiaan Andre meluap seketika. Betapa senang ia melihat ibunya sudah sadarkan diri. Andre mengungkapkan semuanya itu dengan bercakap-cakap dengan ibunya.
Keesokan harinya, kepala desa dan kedua temannya Andre kembali ke rumah sakit untuk menjenguk dan mengantarkan Andre dan ibunya pulang kembali kerumah. Selain itu, kepala desa juga membawa sejumlah uang tambahan hasil dari sumbangan warganya, untuk biaya rumah sakit sebesar 2 juta rupiah.
Keadaan ibunya Andre semakin hari berangsur-angsur membaik. Dan semenjak saat itu, Andre semakin meningkatkan kemampuan matematika yang ia miliki. Ia bersyukur dengan talentanya itu. Karena talenta pemberian Tuhan itulah, Andre bisa mendapatkan uang 5 juta rupiah untuk membiayai pengobatan ibunya.
Tak lama setelah itu, Andre juga mendapat pekerjaan baru. Ia menjadi seorang guru di salah satu SMA ternama di Jawa Barat. Selain itu, ia juga menjadi pelatih olimpiade matematika SMA nasional, yang mempersiapkan bakat-bakat matematika anak bangsa pada ajang International Mathematic Olympiad.


                                                                               OLEH:
GARRY ARIEL CUSSOY

“Jangan pernah sia-siakan talenta yang Anda miliki.Teruslah kembangkan itu, karena dari situlah dapat muncul hal-hal yang luar biasa dalam hidup Anda.” – Garry Ariel Cussoy-

Senin, 24 Desember 2012

Cinta Jarak Jauh


Dunia maya
Dunia yang mempertemukan kita
Tempat dimana kita berjumpa
Mengenal satu sama lain       
Antara aku dan kamu
                        Perlahan,
                        Rasa ini mulai merasuk
                        Terjalin diantara kita
                        Perasaan yang semakin hari
                        Semakin tumbuh subur
                        Menembus batas-batas logika
Namun,
Mungkinkah rasa ini dinamakan cinta?
Disaat hanya teks singkatmu yang kubaca
Yang mewakili sifatmu?
Dapatkah ini disebut cinta?
Disaat pertemuan kita hanya sebatas dunia maya
Dan tak pernah bertemu langsung?
                        Ya,
                        Inilah cinta
                        Cinta kita
                        Memang jarang, namun ada
                        Dan bahkan nyata
                        Cinta yang langka
                        Yang mempersatukan kita
                        Meski jarak ratusan kilometer membentang diantara kita
Tapi waktu terus berputar
Sampai pada saat ini
Disaat cinta kita tak cukup kuat
Untuk menghadapi faktor penghalang yang ada
                        Ku tau
                        Setiap pertemuan kan berakhir dengan perpisahan
                        Dan cinta kita pun tak dapat menghentikannya
                        Kita harus berpisah
                        Menyisakan luka hati yang dalam
                        Antara aku dan kamu
Berat
Sakit
Namun inilah yang terjadi
Mungkin inilah yang terbaik
Untuk kamu dan aku
                        Dan aku yakin
                        Jika kita lahir untuk bersama
                        Suatu saat nanti
                        Tuhan kan mempertemukan kita lagi


OLEH:
GARRY ARIEL
23 DESEMBER 2012

Senin, 10 Desember 2012

Teka-Teki Einstein (Einstein Puzzle)

Hai guys!

Apakah kalian pada suka dengan teka-teki? Atau soal-soal yang berbau logika? Nah mungkin teka-teki ini bisa jadi sesuatu yang cukup menarik, menantang, dan menguras otak bagi kalian-kalian semua yang suka teka-teki atau soal-soal logika.
Kali ini, saya akan memposting sebuah teka-teki yang cukup mendunia, yaitu teka-teki Einstein (Einstein Puzzle). Mungkin udah pada pernah denger atau bahkan udah nemuin jawabannya. Tapi bagi yang belum dan penasaran, silahkan coba dan utak-atik teka-teki berikut! Selamat mencoba  ^^

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada 5 buah rumah yang masing-masing memiliki warna berbeda. Setiap rumah tersebut, dihuni oleh satu orang pria dengan kebangsaan yang berbeda-beda. Setiap penghuni rumah itu menyukai jenis minuman tertentu, merokok dengan merk tertentu, dan memelihara hewan peliharaan tertentu. Antara penghuni yang satu dengan yang lain tidak menyukai minuman yang sama, tidak merokok dengan merk yang sama, dan juga tidak memelihara hewan yang sama. Semuanya berbeda.

PETUNJUK

  • Orang Inggris tinggal dirumah yang berwarna merah
  • Orang Swedia memelihara anjing
  • Orang Denmark suka minum teh
  • Rumah berwarna putih terletak tepat disebelah kiri rumah berwarna coklat
  • Penghuni rumah berwarna putih senang minum kopi
  • Orang yang merokok PallMall memelihara burung
  • Penghuni rumah yang terletak ditengah-tengah senang minum susu
  • Penghuni rumah berwarna kuning merokok dengan merk Dunhill
  • Orang Norwegia tinggal pada rumah paling pertama
  • Orang yang merokok Marlboro tinggal disebelah orang yang memelihara kucing
  • Orang yang memelihara kuda tinggal disebelah orang yang merokok Dunhill
  • Orang yang merokok Winfield senang minum bir
  • Disebelah rumah berwarna biru, tinggal orang Norwegia
  • Orang Jerman merokok Rothmans
  • Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN
Siapakah yang memelihara ikan?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teka-teki ini disusun oleh Albert Einstein pada awal abad lalu. Ia pun pernah menyatakan bahwa 98% penduduk dunia tidak dapat menyelesaikan teka-teki ini. 

Sabtu, 08 Desember 2012

Definisi dan Jenis-Jenis Bilangan

A. Definisi Bilangan
Bilangan merupakan suatu konsep dalam matematika yang digunakan untuk menyatakan nilai suatu satuan. Untuk menyatakan nilai satuan tersebut, digunakanlah lambang bilangan berbentuk tulisan yang disebut angka (yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9). Angka-angka ini tidak memiliki nilai satuan apapun (berbeda dengan bilangan, yang telah memiliki nilai satuan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa bilangan adalah sekumpulan angka-angka (satu atau lebih), yang telah memiliki nilai satuan tertentu.

B. Jenis-Jenis Bilangan
Bilangan terdiri atas beberapa jenis sebagai berikut:
-Bilangan Kompleks:
        -Bilangan Imajiner
        -Bilangan Real:
                -Bilangan Irrasional
                -Bilangan Rasional:
                        -Bilangan Pecahan
                        -Bilangan Bulat:
                                -Bilangan Negatif
                                -Bilangan Cacah:
                                        -Bilangan Nol
                                        -Bilangan Asli:
                                                -Bilangan Ganjil
                                                -Bilangan Genap
                                                -Bilangan Prima
                                                -Bilangan Komposit


  1. Bilangan Kompleks adalah bilangan yang memiliki format a + bi, dengan a dan b adalah bilangan real, dan i adalah bilangan imajiner. Bilangan kompleks biasanya disimbolkan dengan lambang C. Contoh: 4 + 7i, dengan i adalah bilangan imajiner.
  2. Bilangan Imajiner adalah bilangan yang berbentuk sqrt -1 (sqrt = square root / akar kuadrat). Atau dengan kata lain, jika bilangan ini dikuadratkan, akan menghasilkan -1 (i^2 = -1 dengan ^ adalah pangkat). Bilangan ini dikatakan imajiner, karena bilangan ini sebenarnya tidak ada (hanya khayalan) atau tidak dapat dijelaskan secara nyata keberadaannya. 
  3. Bilangan Real adalah bilangan yang dapat dituliskan dalam bentuk desimal. Bilangan ini terdiri dari bilangan rasional dan bilangan irrasional. Bilangan real, umumnya disimbolkan dengan lambang R. Contoh: 3 ; 3,141455 ; 47,2013.
  4. Bilangan Rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan (perbandingan). Yaitu dinyatakan dalam bentuk a/b dengan a dan b adalah bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol. Bilangan rasional umumnya dinyatakan dalam simbol Q. Contoh: 5 ; 2,121212 ; 4/7.
  5. Bilangan Irrasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk perbandingan (pecahan). Contoh: phi (3,1415926...), sqrt 2, bilangan Euller (e = 2,7182818...).
  6. Bilangan Pecahan adalah bilangan rasional yang tidak bulat. Contoh: 1/2, 2/5, 2012/2013.
  7. Bilangan Bulat dilambangkan dengan simbol Z. Contoh: -3,-2,-1,0,1,2,3.
  8. Bilangan Negatif adalah bilangan real yang nilainya dibawah nol. Contoh: -1,-2,-3,-5.
  9. Bilangan Cacah adalah bilangan bulat tak negatif. Bilangan ini dimulai dari 0,1,2,3,4,dst.
  10. Bilangan Nol adalah 0.
  11. Bilangan Asli adalah bilangan bulat positif. Bilangan asli disebut juga bilangan hitung. Bilangan ini disimbolkan dengan lambang N. Dimulai dari 1,2,3,4,5,dst.
  12. Bilangan Ganjil adalah bilangan yang tidak habis dibagi 2. Bilangan ini memiliki format 2n + 1 untuk n bilangan bulat. Contoh: -5,-3,-1,1,3,5.
  13. Bilangan Genap adalah bilangan yang habis dibagi 2. Bilangan ini memiliki format 2n untuk n bilangan bulat. Contoh: -6,-4,-2,0,2,4,6,8. 
  14. Bilangan Prima adalah bilangan asli yang lebih besar dari satu, dimana bilangan tersebut hanya habis dibagi 1 dan bilangan itu sendiri (hanya memilki 2 faktor). Contoh: 2,3,5,7,11.
  15. Bilangan Komposit adalah bilangan asli yang lebih besar dari satu, yang tidak termasuk bilangan prima (memiliki lebih dari 2 faktor). Contoh: 4,6,8,9,10.



Jumat, 09 November 2012

Limit Matematika

Hai guys!
Pada postingan kali ini, saya akan men-share sedikit materi matematika SMA mengenai limit. Bagi yang penasaran, silahkan unduh filenya pada link berikut:

Semoga bermanfaat.
Kritik dan saran sangat saya harapkan, terimakasih :)